Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Jelek
Cukup
Bagus
  Lihat
Statistik

Total Hits : 170663
Pengunjung : 35001
Hari ini : 22
Hits hari ini : 66
Member Online : 243
IP : 54.198.135.17
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

pole1one    
Agenda
19 September 2014
M
S
S
R
K
J
S
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

PERJAKA (Penelusuran Jejak Alam) to Baduy - Liburan setelah UAS

Tanggal : 12/20/2012, 14:16:51, dibaca 614 kali.

Banyak cara liburan yang dilakukan oleh sesorang untuk menenangkan pikiran mereka dari segala runtinitas yang selama ini mereka lakukan.  Sama halnya ketika liburan UAS kemarin yang dimanfaatkan oleh siswa siswi SMA Negeri 2 Krakatau Steel Cilegon untuk mengisi waktu liburan mereka.
Dengan Tema PERJAKA (Penelusuran Jejak Alam), siswa siswi SMA Negeri 2 Krakatau Steel Cilegon lebih memilih mengisi liburan mereka ke salah satu daerah di wilayah Banten yaitu Baduy/Badui, yang memiliki potensi alam cukup untuk menambah liburan kali ini lebih seru :D sekaligus, agar siswa siswi mendapat ilmu pengetahuan yg bisa di ambil, ketika mereka melaksanakan kegiatan liburan tersebut.

Berikut sedikit Filosofi tentang Baduy/Badui:
Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten.
Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto.

Etimologi:
Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut,
berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.

Wilayah:
Wilayah Baduy secara geografis terletak pada koordinat 6°27'27" – 6°30'0" LS dan 108°3'9" – 106°4'55" BT.
Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C.

Kepercayaan:
Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Buddha, Hindu, . Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin:
"Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung."
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)

Mata Pencaharian:
Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

Pemerintahan:
Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "Pu'un". Struktur pemerintahan Kanekes Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut. Sumber

Wah, :D klo di lihat dari filosofi nya
ternyata Sejarah Baduy itu panjang juga yah hehee.
dan liburan kali ini, tidak terlepas dengan pelajaran juga lho :)
sekian dulu dari saya, mudah-mudah artikel ini bermanfaat bagi yang membaca.

Note: Bila ingin melihat foto-foto Peserta PERJAKA (Penelusuran Jejak Alam) to Baduy silakan klik disini



Kembali ke Atas


Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas